Senin, 31 Januari 2011

BUDAYA JAWA DAN PEMIMPIN DI INDONESIA


Ketika kita berbicara mengenai pengaruh budaya dan perilaku kepemimpinan , khususnya di Negara Indonesia . Jika di telaah lebih jauh mengenai tokoh pemimpin di Negara kita , sangat erat kaitanya dengan budaya jawa., karena mayoritas pemimpin kita adalah seorang sosok yang berasal dari pulau jawa., tampaknya hal ini menjadi polemic besar bagi para akademisi untuk membahas lebih jauh , sebenarnaya ada apa yang ada di dalam budaya jawa tersebut , sehingga rakyat Indonesia mempercayai sosok tersebut layak diangkat menjadi orang nomor 1 di Republik tercinta ini.
            Untuk lebih memperjelas wacana dia atas , kita mencoba membahas mengenai satu per-satu pemimpin kita , yaitu :
1.      Presiden Soekarno ,lahir di Blitar, Jawa timur 6 juni 1901,
2.      Soeharto ,lahir di Kemusuk, Yogyakarta, 8 Juni 1921 ,
3.      Bj Habibie ,lahir di Pare-pare, Sulawesi selatan,25 juni 1936.
4.      KH Abdurrahman Wahid, lahir di  Jombang , Jawa timur, 7 september 1940
5.      Megawati Soekarno Putri, lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947 dan
6.      Soesilo Bambang Yudhoyono, lahir di Pacitan, Jawa timur, 9 September 1949.
Hanya satu presiden di Indonesia ini yang berasal dari luar pulau jawa, yaitu BJ Habibie, itu pun dikarenakan kedudukan beliau hanya untuk menggantikan kepemimpinan prseiden soehartto yang diminta untukm mengundurkan diri pada era reformasi tahun 1998. Berbicara tentang budaya jawa , hal-hal yang penting menjadi pertanyaan untuk memperjelas polemic ini antara lain yaitu ;
·         bagaimana cara berhubungan satu sama lain ,
·         Apa falsafah pemimpin di dalam budaya jawa
·         Seberapa besar pengaruh budaya jawa terhadap praktik kepemimpinan
Tentu saja hal itu tidak semudah diterapkan di dalam organisasi besar yaitu pemerintahan Indonesia yang dipimpin oleh seorang Presiden. Satu hal yang menjadi pertanyaan penting , apakah pemimpin Indonesia itu hanya yang pantas dan cocok itu hanya seorang yang berasal dari pulau jawa saja. Tanpa untuk mendiskriminasi suku ataupun daerah lain. Perlu diketahui bahwa nilai dan tradisi dalam sebuah budaya nasional dapat berubah seiring waktu , seperti hal nya juga yang terjadi dalam budaya organisasi. Sebagai contoh; Negara-negara dimana system politis otokratis tradisional digantikan dengan system demokratis akan mungkin lebih menerima kepemimpinan partisipatif dan pemberian kewenangan dalam organisasi.  
Jika dikatakan demikian tepat sekali Negara yang dimaksud adalah Indonesia , dimana di saat kepemerintahan Ir Soekarno yang dikatakan demokrasi terpimpin , dirubah oleh seorang Soeharto yang lebih menerapkan system otokratis ,dimana kebebasan bicara menjadi hal tabu pada saat itu, pemerintah menjalankan fungsi nya tanpa kritik oleh pihak manapun termasuk rakyat akan tetapi system seperti ini berhasil menutupi hal-hal yang buruk yang sebenarnya terjadi di dalam internal pemerintahan, sehingga rakyat merasakan aman-aman saja. Selanjutnya terjadi perombakan besar-besaran, di propokatori oleh seorang tokoh politik bernama Amien Rais, era reformasi di mulai rakyat merasa system seperti itu telah mengekang mereka, dan dianggap sebagai patung yang tidak berdaya sehingga bisa dimanfaatkan saja oleh elit politik pada sat itu. Era reformasi dimuali dengan kepemimpinan BJ Habibie , melalui UU baru yang dikeluarkan , dan system otonomi daerah , kemudian terpilihlah tokoh pemimpin terunik dengan guyonan dan kritik yang beda dari pada yang lain dan penuh controversial ini melalui pemikiran-pemikiran beliau dengan melemahkan eksekutif dengan demikian sebagai Bapak demokrasi maka isu-isu akan mejadi wacana yang menarik dan menghimpun masa ,dialah Kh Abdurachman Wahid atau lebih dikenal Gusdur.
Beliau akhirnya diturunkan oleh MPR karena kasus Bruneigate dan Buloggate, yang akhirnya Megawati Soekarnoputri yang melangkah mulus kepresidenan . Dari sisi hubungan luar negeri tampaknya sangat berbeda dengan bapak beliau , yang dulu nya menolak agressor AS, tetapi kini malah sebaliknya. Masa pemerintahan Megawati ditandai dengan semakin menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, dalam masa pemerintahannyalah, pemilihan umum presiden secara langsung dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia. Selanjutnay presiden yang terpilih secara demokrasi besar-besaran yaitu Soesilo Bambang Yudhoyono, beliau dengan perwakan nya yang kalem , tersistematis, menuai banyak simpati, mungkin itu salah satu yang menjadi factor karisma yang baik sehingga beliau terpilih secara 2 tahapan berturut-turut. Rakyat bebas mengeluarkan pendapat, namun putusan tetap di tangan pemimpin , banyaknya bencana berturut-turut terjadi identik dengan kepemimpinan beliau , tampaknya peran dinas social sangat vital dimasa ini, dan pemberantasan korupsi yang menjadi prioritas utama, dilain sisi instansi hukum yang harusnya menegakkan hukum justru mencoreng muka senidri dihadapan rakyat, itulah yang terjadi dimasa kepemerintahan beliau.
Demikian lah selintas mengenai apa saja yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin kita terhadap bangsa ini, yang belum dikaitkan  dengan budaya jawa, oleh karena itu kita mencoba membahas satu per satu mengenai pertanyaan di atas.
Bagaimana cara berhubungan satu sama lain di dalam masyarakat Jawa
            Mengenal lebih dalam budaya jawa menarik untuk ditelusuri , yang dibarengi dengan istilah-istilah bahasa jawa , dikenal dengan istila mikul dhuwur mendem jero (memikil tinggi-tinggi ,mengubur dalam-dalam), maksudnya adalah bila menghormati orang yang dituakan , lalu mengangkat seluruh jasa-lasanya untuk dicontoh dan membenamkan dalam-dalam apa yang keliru dibuat oleh tokoh tersebut tidak terulang lagi, jadi ketika terdapat seorang yang dijadikan panutan, rakyat jawa berusaha untuk tidak membahas mengenai keutrukan tokoh tersebut, akan tetapi sepakt untuk menguburnya dalam-dalam, tampaknya rakyat jawa sangat menghargai masa lalu, dan bahwa manusia itu taki luput dari kesalahan. Hal ini bias dijadikan contoh sebagaimana ungkapan bahwa, ambil baiknya , buang buruknya. Mayoritas rakyat ketika mendengar cerita buruk tentang pemimpin tersebut maka kepercayaannga akan hilang begitu saja. Untuk itu ini dianggap baik untuk dapat diterapkan .
            Untuk meningkatkan kebersamaann dan kekeluargaan mereka beristilah “mangan ora mangan pkok e kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul. Dalam memantapkan pekerjaan agar teliti dan berhati-hati walaupun kemudian memrlukan waktu, mereka berisitlah alon-alon maton kelakon.



Apa falsafah pemimpin di dalam budaya jawa
(1) ambeging lintang, bahwa seorang pemimpin harus takwa kepada Tuhan YME, dan menjadi teladan bagi masyarakat, bercita-cita tinggi, dengan semboyan mamayu hayuning bawana, demi kesejahteraan dunia.
(2) ambeging surya, bahwa seorang pemimpin harus mengikuti watak dewa matahari. Ia sabar dan setia, panas yang membara di musim kemarau, mampu memberikan kekuatan pada semua makhluk. Ia bertindak adil, berwibawa, merakyat, tanpa pamrih, setia kepada negara dan bangsa sepanjang masa.
(3) ambeging rembulan, bahwa seorang pemimpin harus memiliki watak seperti dewa bulan. Dia memberikan penerangan dalam kegelapan. Pemimpin hgarus dapat menciptakan suasana gembira, damai, memberikan solusi saat rakyat bermasalah. Sinarnya yang lembut mampu memberikan kedamaian dan kesejukan bagi rakyat yang sedang menderita.
(4) ambeging angin, pemimpin harus memberikan kesejukan bagi rakyat. Angin bertiup menyejukkan. Pemimpin harus mampu memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi rakyat.
(5) Ambeging mendung. Awan yang menggantung memang menakutkan. Tetapi ia juga memberikan kegembiraan bagi makhluk hidup. Mendung selalu menaburkan hujan. Pemimpin harus berwibawa tetapi tidak menakutkan, sehingga timbul sikap ajrih asih, dan membagikan rezeki kepada rakyat secara merata.
(6) Ambeging geni, api memiliki watak panas. Pemimpin harus mampu menegakkan keadilan, dikaitkan dengan pemberantasan kejahatan. Siapa pun yang melanggar undang-undang harus dipidana setimpal dengan kesalahannya.
(7) Ambeging banyu, banyu identik dengan laut. Seorang pemimpin harus berwatak samudera dalam arti sabar, berwawasan luas, bisa meredam berbagai masalah bangsa, tanggap, pemaaf, dan menentramkan jiwa rakyat.
(8) ambeging bumi. Bumi pertiwi itu sabar, adil, pemurah dan pengasih. Ia memberikan berbagai anugerah kepada umat, berupa tetumbuhan dan binatang demi kesejahteraan umat manusia. Dengan anugerahnya umat bisa merasakan kemakmuran dan terciptalah kedamaian.
            Orang Jawa dikenal memiliki cara berpikir yang berjenjang, yaitu: nalar, manah dan menggalih. Dengan nalar kita mendapatkan argumentasi, alasan, wawasan, penjelasan dan analisis (lebih ke arah metode berpikir deduktif). Manah berkaitan dengan hal-hal yang dijadikan dasar masalah, yakni bagaimana menuju sasaran yang tepat dalam memecahkan masalah. Sedangkan berpikir Menggalih bersifat integralistis, komprehensif, multidisipliner dan multidimensional untuk dapat mencapai sebuah esensi (tentu pengertian “esensi” disini berbeda dengan pengertian “esensi” pada filsafat eksistensialisme, namun lebih ke arah “esensi” humanisme).
Seberapa besar pengaruh budaya jawa tersebut terhadap praktik kepemimpinan
Suku Jawa yang dapat dikatakan mendominasi jumlah polulasi di Indonesia, terlebih lagi pusat politik negara ini terdapat di Pulau Jawa dan entah bagaimana sejak pemimpin pertama bangsa Indonesia berasal dari keturunan Jawa. Pola umum perilaku masyarakat Jawa yang cenderung menghindarkan diri pada situasi konflik dan konsep dalam masyarakat Jawa yang membentuk pola “tindak-tanduk yang wajar” yang berupa pengekangan emosi dan pembatasan antusiasme diri serta ambisi.
Tampaknya konsep budaya jawa sedikit banyaknya mempengaruhi budaya pemerintahan di Indonesia, sebaggai contoh dikatakan bahwa Soeharto selalu sumringah dan banyak tersenyum , malah dia disebut The smilling General oleh penulis asing , seorang pendiam yang berani dan cepat mengambil keputusan genting dalam keadaan genting, sangat cocok sekali dilihat dari falsafah jawa, yaitu ambeging bulan , ambeging surya , dan rembulan.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa karena alam pikiran Jawa yang religius – sumber konsep kekuasaan dalam kebudayaan Jawa, segala sesuatunya kembali kepada, Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini mempengaruhi konsep berpolitik bangsa Indonesia hingga kini, mulai dari Pancasila yang menjadi dasar negara, pada sila pertama disebutkan bahwa “keTuhanan Yang Maha Esa” sampai pola perpolitikan yang dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit dan Mataram. Diluar konteks Demokrasi dan sistem birokrasi dimana rakyat dan bawahan dapat berpengaruh pada pemerintahan, pada masyarakat Jawa pada masa kerajaan kekuasaan absolut ditangan raja dan rakyat tidak memiliki hak dan turut campur dalam perpolitikan, namun raja pada masa itu benar-benar bertanggung jawab sepenuhya kepada rakyat. Hingga kini pola pikir masyarakat Indonesia masih terpengaruh pola pikir masyarakat Jawa dimana Pulau Jawa seolah-olah menjadi pusat kekuatan politik Indonesia.


Referensi
Munif ,achmad.2002.50 tokoh politik legendaris dunia. Jakarta . catalog dama terbitan.
Wiguna ,Guntur,2010.profil lengkap cabinet Indonesia bersatu.jakarta media pressindo
Kencana inu syafiie.2005.sistem politik Indonesia.jakarta . resiko aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar